Sebenarnya sudah cukup lama saya berusaha untuk berani menyembelih kambing kurban, cuma disamping keberanian juga dibutuhkan kesempatan. Umumnya kalau kita menyerahkan kambing kurban ke masjid atau musholla pasti sudah ada petugas penyembelihnya. Pada Iedul Adha tahun ini ada seorang teman yang mengajak untuk sama-sama berkurban di rumah teman di Surabaya, maklum lah karena lingkungan sekitarnya bisa dibilang kurang mampu. Akhirnya saya sanggupi.
Pada saat malam takbiran, kami mulai berburu kambing kurban. Ada 6 orang termasuk saya yang mencari hewan kurban. Setelah putar sana sini, tanya sana sini, alhamdulillah dapat. Ada seorang teman yang sudah bawa sendiri kambingnya dari rumah sehingga total 7 kambing.

Keesokan harinya setelah sholat Ied, saya sudah siap meluncur ke rumah teman tersebut. Ternyata sudah ada 4 kambing yang dipotong. Ketika kambing saya mau dipotong, saya bilang sama teman kalau saya ingin bisa memotong kambing sendiri, akhirnya pisaunya diberikan kepada saya

Saya ucapkan Bismillah, Allohu Akbar.

Cara memotongnya, pegang pisau dengan kuat, ternyata tidak hanya diiris, tapi pisau juga diputar sampai setengah leher (ini yang bagi saya agak sulit pertama kalinya), Karena pisaunya yang tajam, saya cuman menarik satu kali sayatan sudah putus 2 urat dan tenggorokannya. Rasanya seperti mengiris roti atau buah. Setelah disayat, pisaunya jangan di cabut dulu karena darahnya akan memancar kemana-mana, kasian teman-teman yang megang kambingnya bisa terciprat darahnya.

Mungkin bagi teman-teman cerita ini terlihat sadis, tapi inilah syari’at yang diperintah oleh Alloh untuk berkurban,  

??????? ????????? ????????

(Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkorbanlah) QS. Al kautsar 2

Ada yang menarik, rata-rata kalau saya tanya, pak beli pisau yang tajam seperti itu dimana, jawabnya pasti sama “Pesen dulu di Madura”, wah ternyata memang Madura cukup terkenal dalam pembuatan pisau ya, tidak hanya sabit untuk carok.