Seorang Ibu penjual Gorengan

Sore itu seorang ibu dengan sepedanya melewati depan rumah, anaknya yang masih kecil digendong dengan selendang, di atas sadel sepedanya diikatkan sebuah payung kecil untuk melindungi dirinya dan bayinya dari panas dan hujan.  Sementara itu di boncengan belakang sepedanya terdapat sebuah keranjang plastik berisi bermacam-macam gorengan, mulai ote-ote, pisang goreng, tahu isi dan semacamnya, Ya dia berjualan goreng2an. Satu biji dijual 500 rupiah. Saya jadi berpikir, kalau harga jualnya segitu, biaya produksinya berapa, ongkos kerjanya berapa.

Kalau ditanya, ibu sehari-hari jualannya habis atau tidak? pasti jawabnya ya kadang habis, kadang tidak. Gimana Bu, apakah cukup untuk kebutuhan sehari-hari? Jawaban ini yang kadang membesarkan hati : “Alhamdulillah mas, paling tidak uangnya bisa diputer sampai akhir bulan”. Intinya uang dari sang suami tidak langsung habis, tapi bisa diperpanjang sampai 1 bulan (yang kalau menurut nalar kita, mungkin tidak sampai 1/2 hari ditangan kita sudah habis untuk kebutuhan).

Coba kita hitung-hitung, anggap saja dia jualan 100 biji, tiap biji untung kotor 100 perak (biasanya ongkos tenaga kerja tidak dihitung), berarti jika daganannya habis dia cukup mengantongi 10 ribu rupiah (itu asumsi positif).

Kalau dibandingin dengan seorang pengemis, di dekat sebuah SPBU di daerah surabaya, tiap motor/mobil yang lewat, 1 dari 5 kendaraan pasti memberi 500 rupiah atau seribu, jadi kl sehari ada seratus orang saja yang memberi, dia sudah dapat 50 ribu s/d 100 ribu, kalau 1 bulan bisa sampai 3 juta lebih, kalah deh gaji UMR hehehe. Enak sekali, makanya kadang pengemis juga ada yang mengkoordinir. Coba bandingkan dengan ibu penjual gorengan tadi, walaupun dapat untung yang sedikit, tapi saya sangat salut karena itu adalah uang dari hasil keringat sendiri dan tidak mau mengemis dari orang lain dan saya berdo’a semoga ibu itu dan ibu-ibu yang lain selalu memperoleh rizki yang barokah (bermanfaat dan bertambah banyak)

Apalagi kalau dibandingkan dengan kita, limaratus rupiah sepertinya tidak begitu berarti, untuk parkir motor atau bayar toilet saja sudah habis. Mungkin terkadang kita perlu untuk melihat ke “bawah” agar kita bisa lebih bersyukur pada Alloh.